POLITISI IMPOR DAN OLIGARKI PARTAI

Posted in memelihara kegelisahan on Detsember 4, 2008 by taufikbaso

Muhammad Taufik dan Eka Vidya Putra

Beberapa minggu yang lalu media masa mendadah keterkaitan petinggi-petinggi partai yang menempatkan keluarga mereka dalam daftar urut utama caleg partai. Praktek KKN ditubuh partai ini menambah daftar kekecewaan masyarakat terhadap partai. Disamping itu hal ini muncu juga sebagai respon sebagai bentuk kekecewaan kader partai yang sudah lama mengabdi dikalahkan oleh keberadaan keluarga petinggi partai. Tapi ada satu hal yang teralfakan oleh banyak orang bahwa problem partai tidak hanya berada pada kontek itu saja, tapi persoalan lain adalah keberadaan caleg didaerah yang secara “paksa” ditempatkan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) masing-masing partai. Hal ini mengindikasikan betapa bersarnya kekuasaan DPP atas pengurus partai di tingkat daerah. Dan ini adalah kekalahan pegurus partai di tingkat lokal. Meski sudah dibahas dalam media ini, tapi sepertinya belum mendapat tempat yang luas. Persoalan ini diketengahkan sebagai bagian dari pemahaman bersama bagaimana parta (DPP) mempraktekan kekuasannya sampai pada tingakat lokal.

Loe edasi »

AGAMA DI BAWAH BAYANG-BAY ANG KAPITALISME GLOBAL YANG MENAKUTKAN

Posted in memelihara kegelisahan on september 30, 2008 by taufikbaso

“You are imprinted to want a peaceful, tolerant, funny world.

You can choose your Gods to be smart, funny, compassionate, cute and goofy”

(Timothy Lary dalam Yasraf A. Piliang, Cyber-Space……, 2000)

Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk dan cuplikan dari sekian banyak wajah-wajah menakutkan yang ditampilkan oleh para cyberist agar manusia menghilangkan ketergantungan terhadap eksistensi, yang namanya Tuhan. Layaknya sebuah ciptaan atau produk yang dihasilkan dalam satu zaman satu sisi membawa manusia dalam suasana kemudahan, percepatan, kesenangan, keindahan, keterpesonaan dan ketakjuban namun di sisi lain ia juga meniggalkan residu yang menyengat hidung, juga menampakan wajah-wajah yang tidak ramah, hedonisme, konsumerisme, anarkisme, narsisme dan dehumanistik.

Sebagai sebuah konsekuensi logis dari modernisasi yang tidak dapat dihindari, kenyataanya proyek-proyek tersebut tidak sekedar hanya wujud dari kemajuan sains dan teknologi. Modernisasi juga menyimpan keinginan-keinginan ideolgis yang membahayakan dan gila. Hal ini tidak lebih manifestasi dari, mengutif Yasraf “mesin besar hasrat kapitalisme” (the great capitalist desiring machin). Dengan iming-iming kesenangan, kemudahan, keindahan, namun dibalik itu semua tersimpan sebuah proyek yang menggurita dengan ciptaan yang membangkitkan hasrat-hasrat dan libodo manusia untuk terus dan terus dipuaskan tanpa akhir hingga manusia menjadi mesin-mesin yang selalu harus dipuaskan. Dibalik wajah yang lembut, rasionalisasi, kapitalis juga menyimpan rupa yang meyeramkan dan sekaligus mengancam segala eksisitensi yang berseberangan dan mengancam kepentingan dan keuntungan kapitalis sendiri.

Loe edasi »

BERSAMA-SAMA MENGUBUR MINANGKABAU

Posted in Uncategorized on september 30, 2008 by taufikbaso

Rahasia hidup, jika kau ingin mengetahuinya, terletak dalam kegelisahan

(Iqbal)

Gulung tikarnya sosialisme dengan ditandai memudarnya kekuatan Uni Soviet dan mati-runtuhnya tembok Berlin tahun 1989. Sehingga kapitalisme menjadi ideologi tunggal yang akan menguasai pasar global, sehingga Francis Fukuyama menegaskan era ini sebagai “the end of History”, “akhir dari medernitas” dalam bahasanya Gianni Vattimo, “akhir dari filsafat” dalam celotehan Heidegger, “akhir dari ideologi’ dalam ungkapan Dannil Bell, “akhir dari narasi besar” istilahnya Lyotard, “akhir dari sejarah” bagi Kermonde, Atau “akhir dari teori” dalam pemahman Jameson. Perlawanan Timur dan Barat (sosialisme dan kapitalisme) dianggab sudah wafat. Mengutip pendapat Prasodjo yang dikutipnya dari Jack Snyder bahwa kini demokrasi liberal telah menyebar dan menyapu bekas-bekas negeri-negeri otorian di Amerika Latin, Eropa Selatan dan Eropa Timur bahkan menuju Asia Timur. Inilah era kemenangan liberlisme di mana negara-negara di dunia terintegrasi dalam ekonomi pasar dan satu sama lain semakin dalam ketergantungan ekonomi. Atau dalam bahasanya Ien Ang dalam “in Realm of Uncertainty: The Gobal Village and Capitalist Postmeodernity” yang dipinjam oleh Nugroho bahwa dunia ini ibarat dalam kondisi morat marit dan serba tidak terduga. Runtuhnya komunisme di Eropa Timur, usai perang dingin, Perang teluk, penurunan secara bertahab peran Amerika Serikat, munculnya peran Eropah, Jepang dan negara-negara industri telah mengahasilkan ketidakpastian di dunia ini. Wellerstein menamakan “the capitalist world system is in muattion nom”.

Loe edasi »

‘KETIDAKWARSAN’ DALAM KAMPANYE DAN LAHIRNYA ‘ANAK HARAM’

Posted in Uncategorized on september 30, 2008 by taufikbaso

Ritual yang amat penting yang harus dilalui oleh setiap partai menjelang diperhelatkannya pemilu adalah kampanye. Sejumlah partai atau caleg mencoba keluar dari kepengapan dan endapan ide-ide yang telah disusun secara sistemik dan apik sebelum kampanye digelar. Banyak gelagat yang muncul sebagai pertanda akan atau telah dimulai genderang pertarungan dalam penguasaan (penjajahan?) opini masyarakat. Banyak uang yang akan atau telah dihamburkan sebagai bagian dari suatu kemestian dari setiap pesta dan karnaval pemilu. Telah banyak stretegi jujur (hipokrisi?) disusun yang nantinya akan menusuk dan mengkerangkeng kepala rakyat untuk memilih apa kemauan partai atau para caleg. Gemuruh kesemuanya akan memecah keheningan dan kedamaian masyarakat yang masih dikhusukkan dengan keterjepitan hidup. Mereka diajak (dipaksa?) untuk ikut bagian dari setiap peristiwan dan karnaval yang kadang-kadang menyuguhkan dagelan-dagelan dan arak-arakan politik. Mata mereka dipusingkan dengan kepadatan visual-visual, gambar, umbul-umbul, iklan, bendera baik di media, di dinding toko atau di sepanjang jalan. Mereka digiring dalam batas-batas kewarasannya untuk memilih dan mengikuti irama pertarungan yang warna-warni. Barangkali tidak salah, mengutip Baudrillard, masyarakat dipenjara dalam bentuk keheningan dan kediaman (silent majority). Mereka acapkali diposisikan sebagai bagian dari sasaran tanpa sepantasnya mereka merespon secara sadar dan kritis atas apa yang mereka mamah dari ide-ide yang kadang kala tidak mereka mengerti.

Loe edasi »

MENAKAR HARGA KNPI ?

Posted in memelihara kegelisahan on september 30, 2008 by taufikbaso

” ……perhatikan sungguh-sungguh ide-ide yang datang dari rakyat,yang masih terpenggal dan belum sistematis, dan coba perhatikan lagi Ide-ide tersebut,pelajari bersama rakyat sehingga menjadi ide-ide yang lebih sistematis,kemudian menyatulah dengan rakyat,ajak dan jelaskan ide-ide yang datang dari mereka itu,sehingga rakyat benar-benar paham bahwa ide-ide itu adalah milik mereka,terjemahkan ide-ide tersebut menjadi aksi,dan uji kebenaran ide-ide tadi melalui aksi.Kemudian sekali lagi perhatikan ide-ide yang datang dari rakyat,dan sekali lagi menyatulah dengan mereka,…….. begitu seterusnya di ulang-ulang secara ajeg,agar ide-ide tersebut menjadi lebih benar, lebih penting dan lebih bernilai sepanjang masa.Demikian itu adalah teori pengetahuan rakyat.

(Mao Tsetung)

Banyak orang yang bertanya, sebagai orang yang dididik dalam nuansa netralitas dan kebebasan memilih, mungkinkan teman-teman yang berada dalam ranah KNPI sekarang sudah memilih “jodoh” yang tepat sebagai pelabuhan dan eksternalisasi nilai-nilai anak muda yang mengendap dalam diri selama ini. Sebenarnya kerisauan itu bermuara ketika , awal-awal reformasi dahulu banyak yang menggugat, mungkin orang-orangnya juga berada disini, bahwa KNPI senyatanya sudah berada diambang tapal batas atau titik nadir sebuah organisasi. Dan amabang batas itu sebenarnya harus dipancung demi keberlanjutan habitat kemerdekaan dan kebebasan, netralitas dan berkembangbiaknya konstruksi kebebasan, idelaisme, keberanian, keenergikan dan kecerdasan karena Orde Baru yang membidani lahirnya KNPI hanya berorientasi sebagai wadah depolitisasi, deliberalisasi, pengkebeirian kaum muda saat itu dan itulah shadow[1] politic-nya Orde Baru yaitu, salah satunya, politik penyeragamana (uniformitas). Wujudnya adalah lahirnya organisasi-organisasi SPSI untuk buruh, KORPRI untuk pegawai negeri, HKTI untuk petani, KNPI untuk mahasiswa dan pemuda dan lain-lain. Artinya, mengikuti alur pikiran Billah yang dikutipnya dari Jenskin, menggambarkan strategi tersebut dengan “rule type praetorian” yang merancang dan mendesak dua kebijakaan. Pertama, kebijakan ekslusioner (memakzulkan) kelompok pemuda ‘garis keras’ yang dianggab sebagai ancaman potensial dengan mengunakan kekuatan termasuk operasi intelejen. Kedua, inkorporasi inklusioner yakni merangkul dan menghegemoni kelompok pemuda yang moderat dengan maksud memecah belah pemuda sebagai kekuatan politik dengan, salah satunya mendirikan KNPI[2]. Dan kenyataannya hari ini KNPI diisi, umumnya, oleh orang-orang yang telah mematah sejarah “garong” Orde Baru itu dengan semangat radikal yang terkadang nekad, berani yang terkadang konyol, cerdas yang terkadang hari ini alfa. Yah…mungkin aktivis 98 kita sebut namannya, kalau boleh dipenggal eposh sejarah kebangsaan ini berdasarkan fase perjalanan gerakan mahasiswa/pemuda (1928,1966,1978,1998). Pertanyaan besar adalah ‘mungkinka’ hal itu berlanjut?.

Loe edasi »

“PADANG DIKUDETA PASAR?” (Catatan bagi Sang Kandidat)

Posted in memelihara kegelisahan on september 30, 2008 by taufikbaso

Suaranya itu seakan-akan suara jujur, suara yang membela kepentingan rakyat, suara yang membawa perdamaian,

sebenarnya adalah semburan ular berbisa yang meracuni kemakmuran dan kebahagian rakyat

(Syekh Sulaiman Ar-Rasully dalam Demokrasi, Otonomi dan Gerakan Dakwah)

Judul di atas menyemburkan beberapa mafhum. Satu sisi seolah-olah ada ledakan ekspektasi dalam ranah yang namanya Padang sebagai ikon kota besar yang modern. Diseberang lain ini seakan-akan memunculkan skeptisme. Skeptisme atas merunyamnya persoalan yang biasa dihadapi oleh kota besar; problem kemiskinan, tata kota, kekumuhan, tidak adanya ruang publik dan daerah serapan, pengangguran, PKL, Prostitusi, illegal fishing, illegal logging, pelanggaran dan ketidakpastian hukum, korupsi, kemacetan lalu lintas, drainase, papan iklan/billboard, birokrasi, moralitas, pajak, “perkelahian“ politik dan lain-lain. Seolah-olah masalah itu muncul mulai dari balai kota dan gedung DPR sampai keselokan dan lampu merah. Semuanya berjalin-kusut sesuai dengan posisinya masing-masing dan itu ternganga di depan mata. Dalam kontek ini biasanya skepetisme berawal dari ketidakpastian terhadap pencanderaan feneomena yang saling bergelimpangan dihadapan mata yang satu sama lain tidak bisa didefenisikan secara jelas. Kekaburan makna/defenisi/harapan/tujuan akhirnya menghantarkan pada skeptisme. Tapi bagi sang intelektual skeptisme tidak selalu berujung pada ketumpulan akan tetapi akan melahirkan kegairahan; kegairah gugatan, pemberontakan dan keresahan. Selanjutnya gairah-gairah tersebut akan berujung pada pertanyaan-pertanyaan. Berawal dari pertanyaan itu munculah penyellidikan dan penelitian. Tepatnya skeptisme berunjung pada mata penyelidikan dan penelitian dari “ketidakberesan” fakta yang ada. Disinilah bermain ruang refleksi dan aksi.

Loe edasi »

“NAGARI KUPAK DI NEGERI KATA-KATA?”

Posted in memelihara kegelisahan on september 30, 2008 by taufikbaso

PENDAHULUAN

          Demokrasi kembali dibuahbibirkan oleh banyak kalangan disaat formulasi lain dalam bernegara/berpemerintahan tidak mampu lagi menjawab pelbagai persoalan kemanusiaan yang terkembang. Begitu juga sebaliknya di Indonesia, demokrasi menjadi salah satu jalan bahkan satu-satunya jalan dalam membebaskan dari kerangkeng Negara garong-otoritarianisme Orde Baru, sebagaimana disaksikan dengan ketelanjangan mata akhir-akhir ini. Di Indonesia demokrasi tidak hanya dibincangkan pada aras negara tetapi mengerut sampai pembicaraan lokalitas. Meskipun demokrasi lokal sesuatu, mungkin, yang muncul tatkala reformasi ditabuh, namun hasrat untuk memperbincangkan terus saja mengelinding. Di Sumatera Barat pembicaraan hal semacam di atas juga terjadi, dalam artian bagaimana demokrasi di Minangkabau diejawantahkan. Meskipun secara kultural  orang Minangkabau sudah lama mengenal nagari sebagai pranata sosial[1] dalam mengartikulasikan demokrasi[2]. Tapi sepertinya nagari mengalami pasang surut sesuai dengan pasang surutnya penguasa yang mengendalikan bangsa ini mulai dari zaman pra kolonial, kolonial sampai zaman reformasi sekarang. Sehingga formulasi nagari/demokrasi lokal jamak berganti wajah sesuai dengan irisan wajah penguasa. Membayangkan nagari dengan tubuh ideal akan menemukan dilema, sedilema membicarakannya karena menubuhkan bentuk nagari dalam bingkai demokrasi senyatanya harus meloncat kebelakang sebelum fese kolonialisasi yang, paling tidak, bisa menunjukkan secuil sejarah keemasan dalam bernagari, kalaupun itu ada. Tulisan ini mencoba menjawab perjalan demokrasi Minangkabau pasca Orde Baru, disaat diberlakukannya UU No. 22  tahun 1999. Dalam tulisan ini sebagai bahan kerangka berfikir digunakan penghampiran  dalam memahami demokrasi diantaranya adalah komitmen Negara  negara menyediakan a free public sphere bagi warganya untuk mengartikulasikan dan mengaktualisasikan hak-hak dasarnya termasuk dalam menentukan pilihan dalam pemerintahan.

 

Loe edasi »